Bersemi Kala Pandemi

25 Jun 2021Uncategorized

Semenjak COVID-19 diumumkan di Indonesia, semua sektor pendidikan menerapkan Pembatasan Sosial Berskala Besar atau biasa dikenal sebagai PSBB. Pengalaman yang tak akan terlupakan menjadi seorang pendidik disaat seperti ini. Mengajar secara langsung untuk sementara ditiadakan. Sempat mengalami kekhawatiran dengan keadaan, namun bila kita penuh kecemasan atau kekhawatiran. Secara harfiah, kita kehilangan potensi terbesar diri kita, belum lagi kenikmatan hidup kita. Menurut penelitian yang berjudul “Minat Belajar Siswa terhadap Mata Pelajaran Bahasa Indonesia” oleh Yeti Budiarti, disebutkan bahwa minat belajar siswa harus ditingkatkan lagi dengan pembelajaran yang menarik minat siswa. Hal inilah yang memotivasi saya mendesain pembelajaran di era kebiasaan baru ini dengan pembelajaran yang inovatif karena menyadari bahwa cara mengajar menentukan keberhasilan pembelajaran. Beberapa hal luar biasa yang saya lakukan selama pandemi ini ialah:

  1. Memproduksi Soal Menggunakan Google Form

Ketika pandemi, di sekolah tempat saya mengabdi, tepatnya di Kalimantan Timur, mengadakan berbagai pelatihan. Salah satunya adalah Google Forms. Google Forms bersama dengan Documents, Spreadsheet dan Slide menjadi satu-kesatuan menjadi sarana kami membuat soal UH (Ulangan Harian), PTS (Penilaian Tengan Semester), bahkan PAS (Penilaian Akhir Semester). Selama PJJ, saya selalu menggunakan google form karena selain lebih simpel ketimbang word, soal bisa diacak, bahkan kita langsung memperoleh skor otomatis tanpa harus mengoreksi. Awalnya saya sedikit bingung, namun benar kata pujangga “ala bisa karena biasa”. Semua guru, termasuk saya sudah terbiasa dengan google form. Bahkan sampai berpikir, “Kenapa tidak dari dulu PTS

dan PAS menggunakan google form?”. Kecintaan saya terhadap google form semakin bertambah karena akan berdampak pada berkurangnya sampah kertas. Sampah yang berupa kertas memiliki berbagai dampak di lingkungan yang berakibat pada permasalahan sosial di masyarakat. Contohnya, penumpukan sampah seperti gangguan kesehatan, menurunnya kualitas lingkungan, dan menurunnya estetika lingkungan. Nah, inilah mengapa saya berjanji pada diri saya bahwasanya setelah pendemi berakhir, saya akan tetap menggunakan google form untuk menghindari sampah kertas.

2.     Membuat Video Pembelajaran

Berawal dari menonton tutorial di youtube akhirnya mengantarkan saya ke website Powtoon. Website ini dapat membuat animasi pembelajaran yang sangat menarik dengan durasi yang cukup singkat. Selain animasi, kita juga bisa menggunakan Canva. Canva adalah alat untuk desai grafis yang sangat kreatif. Mempelajari cara edit video dengan Kinemaster dan Filmora. Masih dengan berbekal tutorial youtube, saya mempelajari kedua aplikasi ini untuk mengedit video agar mendapat hasil yang memuaskan dan layak dikonsumsi siswa. Meskipun awalnya bingung namun jika sudah dilakukan berkali-kali kesulitan itu semakin berkurang. Di dalam aplikasi ini saya biasanya melakukan pengisian suara dari slide atau animasi yang saya buat di Canva dan Powtoon. Sebenarnya, saya adalah orang yang menggunakan Instagram saja masih bingung bahkan sering dicap “gaptek” karena banyak hal yang saya tidak ketahui tentang dunia teknologi.

  • Membangun Kelas Virtual di Google Classroom

Awalnya saya berkomunikasi dengan siswa di whatsapp. Namun rupanya, berdampak pada memori telvon pintar yang mulai eror karena tidak bisa lagi menampung tugas-

tugas kiriman siswa. Apalagi jika tugas berbentuk video. Telvon pintar ini mungkin menjerit jika dia diberi nyawa. Perkenalan dengan aplikasi ini seperti jawaban atas segala kesulitan yang terjadi saat PJJ (Pembelajaran Jarak Jauh). Aplikasi ini dibuat untuk    menyederhanakan,    mendistribusikan,    dan    menilai    tugas     dengan cara virtual, alias tanpa kertas. Siswa dapat diundang untuk bergabung dengan kelas melalui kode pribadi, atau secara otomatis diimpor dari domain sekolah. Kita bisa membuat kelas layaknya kelas yang normal. Bisa berkomunikasi, tanya jawab, memberi tugas, mengoreksi, memberi materi bahkan bisa terhubung dengan google meet. Sebenarnya, Google Classroom lebih cocok untuk pengalaman belajar campuran daripada program sepenuhnya online. Namun mengingat kesehatan harus diutamakan disaat pandemi seperti saat ini. Google Classroom merupakan solusi terbaik. Awalnya, murid, orang tua, bahkan guru merasa kesulitan. Apalagi harus menggunakan akun khusus yakni GSuite for Edu (Google Suite for Education). Gsuite adalah sebuah layanan Google berbasis cloud untuk lembaga-lembaga pendidikan. Dengan menggunakan layanan tersebut, maka lembaga pendidikan tidak perlu menyewa server, atau menginstal aplikasi-aplikasi tertentu di komputer masing-masing. Jika tidak pandemi, mungkin saya tidak akan tahu hal-hal seperti. Begitu banyak kebaikan yang saya dapat Ketika saya mulai memandang segala sesuatu dari segi positifnya.

4.     Membangun Channel Youtube sebagai Media Belajar PJJ

Setelah membuat video, tidak mungkin membagikan video lewat wattsapp karena durasi yang sangat panjang. Akhirnya, tercetus ide mengunggah di youtube. Awalnya tidak percaya diri, namun setelah bergabung di grup youtuber khusus guru rupanya mayoritas mereka punya kesulitan yang sama dengan saya. Bahagia karena perjuangan saya membuat video bisa bermanfaat untuk orang lain. Tidak hanya murid saya sebanyak 120 orang yang menonton, tapi ribuan orang dari berbagai asal sudah

menonton video saya. Sungguh tidak saya pikirkan sebelumnya. Memang saya belum layak disebut youtuber namun niat hati saya adalah membagi ilmu. Kebahagiaan ini sungguh bertambah sempurna Ketika saya mengikuti lomba video pembelajaran, dan Alhamdulillah! saya dapat hadiah uang 10 juta rupiah karena memenangkan lomba tersebut.

5.     Mengadakan Lomba-Lomba Virtual

Meskipun pandemi, tidak menyurutkan semangat kami para guru untuk meningkat kreatifitas dan menggali bakat siswa. Saya dipercaya menjadi juri lomba video pendek tentang tauladan Rosulullah, lomba tiktok informatif tentang Covid 19 dan lomba mendongeng virtual. Saya sangat senang, rupanya ada orang yang mengganggap saya mampu menjadi juri walaupun sebenarnya saya juga masih belajar.. Apresiasi wali murid berdatangan karena pandemi tidak menurunkan pestasi siswa siswi sekolah kami. Secara tidak langsung, siswa-siswi akan belajar banyak hal tentang virus corona dan tentunya mereka akan belajar membuat video yang menarik karena yang digaungkan adalah sisi kreativitas.

Itulah beberapa hal yang saya lakukan dan saya rasakan selama pandemi ini guna merenggas jarak dari segala keterbatasan yang saya hadapi selama PJJ. Disaat saya berjuang menjaga imun, saya juga menjadi sutradara dadakan dalam proses belajar- mengajar kurikulum darurat. Semangatlah para guru di Indonesia menghadapi pahit manisnya Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ). Bersemilah meskipun pandemi!

Oleh: Zares Melia

Kategori

Arsip