Kurikulumku yang Merenggut Masa Bermainku:Renungan Bagi Seorang Pendidik

29 Oct 2017Berita

Masa kecil adalah masa bermain,sebagaimana di masa – masa kecil jaman dulu,di era ketika penulis alami di tahun 70-an. Dimana kami sepulang sekolah masih punya waktu bermain mainan tradisional seperti,bermain klereng,petak umpet,perang-perangan dengan mercon bombong (terbuat dari bambu),bermain rakit dari pohon pisang disaat banjir, membuat mobil – mobilan dari plesteran bunga tebu dan masih banyak lagi. Sangat banyak manfaat yang kami dapat dari permainan tradisional tersebut,yaitu diantaranya: berlatih memperkuat motorik-melatih kekuatan otot kaki dan cengkraman tangan,melatih keseimbangan gravitasi agar tidak mudah jatuh badan kita,melatih kesigapan dan ketangkasan,belajar bersosialisasi dan bekerjasama dalam team,melatih kepemimpinan di anak-anak kampung,melatih fokus dan konsentrasi dan masih banyak lagi. Tapi tidak dengan era di generasi anak-anaku. Sungguh kurang beruntung mereka itu,dikarenakan masa – masa bahagia,masa kanak-kanak,masa kecil mestinya mereka cukup bermain tapi malah terenggut oleh tuntutan ‘pengkondisian kurikulum’ yang karenanya keadaan yang harus memaksa mereka untuk bisa baca-tulis dan hitung. Periode ini ketika mereka duduk di kelas kecil SD yaitu kelas 1 dan 2. Belum lagi ancaman Kriteria Ketuntasan Minimal yang mengharuskan peserta didik tinggal kelas bila tidak dapat tercapai di sejumlah mapel tertentu. Orangtua mana yang hendak membiarkan anaknya ‘terhukum’ mentalnya dari teman-temannya dan menjadi ukiran yang tak terlupakan dibenaknya sepanjang hidupnya.
Ditambah lagi bila si peserta didik di kelas kecilnya,berhadapan dengan guru yang semestinya di kurtilas ini menekankan pembelajarannya pada proses yaitu memberikan Remedial teaching bagi ‘si kurang’ dan memberikan pengayaan bagi ‘si cukup’ tapi kenyataannya tidak sebagaimana mestinya. Belum lagi berbicara, kalau toh pun Remedy itu dilaksanakan oleh si guru tapi masih jauh dari prosedur teknik pemberian remedy yang benar.
Disaat naik kelas 3 keatas,mereka baru bisa baca tulis sudah terbebani oleh bawaan buku kurtilas tematik yang terintegrasi berbagai mapel jadi satu buku tebal,seperti anak kuliahan. Belum puas dengan buku Kurtilas adalah anjuran dari guru mapel untuk mempunyai buku pendamping. Penulis sangat tak habis pikir,kok ada pendampingan buku kurtilas,mestinya guru yang menganjurkan beli buku pendamping yang harus mendapatkan pendampingan dalam pelaksanaan kurtilas. Semoga alasannya bukan ini dan lebih rasional lagi.Dengan banyaknya dan tebalnya buku,hal itu bisa menghambat pertumbuhan fisik peserta didik,sudah banyak research yang membahasnya.Yang lebih memprihatinkan tetnyata penerbitpun berperan dalam strategi marketing sebuah buku. Supaya bisa tetap terbeli oleh konsumen si penerbit berperan ‘nakal’ juga yaitu dengan mengeklaim edisi revisi,si penerbit hanya memberikan sedikit tambahan saja di suatu pembahasan,meski latihan siswa tetap persis. Inilah peran guru kelas dan mapel dibutuhkan untuk lebih selektif dan melihat kebermaknaan buku dengan seksama sebelum merekomendasikan pemakaian atau pembelian suatu buku kepada orangtua.
Untuk memberikan hak setiap anak Indonesia untuk menikmati masa bermainnya,masa tumbuh kembang sesuai usia dan dunianya,maka seorang guru harus lebih bijak memberikan tugas atau PR dengan tidak bertubi-tubi,berlebih,bisa melihat situasi dan kondisi kesibukan atau padatnya tugas ataupun kegiatan siswa. Berdasarkan pengamatan penulis,kalaulah setiap guru saling idealis dan tanpa sengaja berkompetisi saling memberi tugas dan PR maka niscaya akan justru menghambat perkembangan mental dan merenggut masa bermain anak diusia SD. Bahkan bisa menjadikannya stress yang diluapkan dalam bentuk kebosanan dan lari dari belajar. Semoga kita bisa menjadi orangtua dan guru yang bijak dalam mendidik.

By: Aunur Rofiq

Kategori

Arsip